TERMS OF TOURISM

Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya.Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal. 

Pramuwisata adalah profesi di bidang kepariwisataan. Pramuwisata disebut juga Pemandu Wisata atau Tour Guide dalam Bahasa Inggris. Di Indonesia, secara nasional telah dibentuk organisasi yang mewadahi profesi ini, yaitu Himpunan Pramuwisata Indonesia atau HPI. Organisasi ini telah memiliki jaringan ke seluruh provinsi di Indonesia. Di beberapa daerah juga terbentuk sejumlah organisasi serupa yang bersifat lokal.

Definisi

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pramuwisata adalah petugas pariwisata yg berkewajiban memberi petunjuk dan informasi yg diperlukan wisatawan. Pramuwisata disebut juga Pemandu Wisata atau Guide dalam Bahasa Inggris.
  • Menurut Peraturan Menparpostel RI, Pramuwisata adalah seseorang yang bertugas memberikan bimbingan, penjelasan dan petunjuk tentang obyek wisata serta membantu keperluan wisatawan lainnya.
  • Menurut EN 13809 OF EUROPEN COMMITTEE FOR STANDARDISATION (CEN) ADOPTED BY WFTGA AT ITS DUNBLANE SCOTLAND CONVENTION 2003, TOURIST GUIDE is a person who guide visitiors in the language of their choice and interprets the cultural and natural heritage of an area which person normally possesses an area-specific qualification usually issued and /or recognized by the appropriate authority.

Secara umum, seseorang yang hendak menjadi pramuwisata di Indonesia disyaratkan untuk memiliki licence yang diterbitkan oleh HPI. Ketentuan ini terutama bagi pramuwisata yang melayani wisatawan asing agar kualitas pribadi pramuwisata selalu mencerminkan ke-Indonesia-an serta menjaga validitas berbagai informasi yang disampaikan kepada wisatawan. Termasuk pula kinerja pramuwisata dalam kaitannya dengan “pihak pemakai” yaitu biro perjalanan wisata yang membawa wisatawan.

Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, “tempat penampungan buat pendatang” atau bisa juga “bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum”. Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah. 

Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di cikal bakal wilayah kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.

Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.

Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun “dipersenjatai” berbagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata “transit”, karena memang ditujukan buat para musafir.

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran “motel“, gabungan kata “motor hotel” yang sama dengan tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.

Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.

Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.

Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.

Klasifikasi

Biaya dan kualitas hotel biasanya berdasarkan jangkauan dan tipe pelayanan yang tersedia. Dikarenakan kenaikan besar-besaran dalam turisme di seluruh dunia, selama dekade terakhir abad 20, pendirian hotel terutama yang kecil telah meningkat secara drastis. Untuk pembandingan, sistem penilaian telah diperkenalkan satu sampai lima bintang dan juga tingkat melati di Indonesia yang lebih murah.

LOSMEN

Losmen (dari bahasa Prancis “logement“, “penghunian”, lewat bahasa Belanda) adalah sejenis penginapan komersial yang menawarkan tarif yang lebih murah daripada hotel.

Resort

Sebuah resort adalah tempat untuk relaksasi atau rekreasi, menarik pengunjung untuk berlibur. Resort juga tempat, kota atau kadang-kadang bangunan komersial yang dioperasikan oleh suatu perusahaan. Resort sendiri menyediakan banyak keinginan pengunjung seperti makanan, minuman, penginapan, olahraga, hiburan, dan perbelanjaan. Sebutan “resort” kadang-kadang salah digunakan untuk mengartikan hotel yang tak menyediakan ameniti yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah resort. Tetapi, hotel merupakan fitur utama sebuah resort, seperti Grand Hotel di Mackinac Island, Michigan. Sebuah resort tidak harus berupa bangunan komersial yang dioperasikan suatu perusahaan, meskipun di abad ke-20 fasilitas sejenis ini lebih banyak.

Kota yang memiliki resort atau dimana pariwisata atau liburan adalah bagian dari aktivitas lokal sering disebut kota resort. Kota seperti Sochi di Rusia, Sharm el Sheikh di Mesir, newport, Rhode Island atau St. Moritz, Swiss, atau daerah besar, seperti Pegunungan Adirondack atau Riviera Italia merupakan resort-resort terkenal. Walt Disney World Resort adalah contoh resor komersial sendiri. Resort berdiri di seluruh dunia, menarik pengunjung dari seluruh dunia. Thailand, contohnya, telah menjadi negara tujuan populer. Resort umumnya berdiri di Amerika Tengah dan Karibia. Berkaitan dengan resort adalah situs pameran dan pertemuan besar. Umumnya, berada di kota dimana ruang pertemuan, bersama dengan akomodasinya juga hidangan dan hiburan disediakan.

 

Sebuah resort tepi danau di Jasper, Alberta

Resort di suatu daerah

Sebuah bangunan komersial di kota resort seperti wilayah rekreasi, situs bersejarah, taman tema, fasilitas permainan atau atraksi turis lainnya bersaing dengan bisnis lain di kota itu. Contohnya hotel di dan sekitar Walt Disney World, berbagai resort di St. Martin di Karibia, dan bangunan-bangunan di Aspen, Colorado di AS.

Resort tujuan

Sebuah resor tujuan merupakan resort yang berisi, di dalam dan luar, kemampuan atraksi tamu yang memungkinkan-dikatakan bahwa sebuah resort tujuan tidak harus dekat dengan sebuah tempat (kota, situs bersejarah, taman tema, atau lainnya) untuk menarik publik. Karakteristik lain dari sebuah resort tujuan adalah menawarkan makanan, minuman, penginapan, olahraga, hiburan, dan perbelanjaan di dalam bangunan sehingga tamu tidak perlu meninggalkan bangunan selama menetap di sana. Fasilitas tersebut memiliki kualitas yang lebih tinggi bila seseorang menetap di hotel atau makan di restoran kota. Contohnya Atlantis di Bahama, Costa do Sauípe di Brazil Timurlaut, Laguna Phuket di Thailand dan Sun City dekat Johannesburg di Afrika Selatan.

Jenis resort

Resort di suatu daerah

Sebuah bangunan komersial di kota resort seperti wilayah rekreasi, situs bersejarah, taman tema, fasilitas permainan atau atraksi turis lainnya bersaing dengan bisnis lain di kota itu. Contohnya hotel di dan sekitar Walt Disney World, berbagai resort di St. Martin di Karibia, dan bangunan-bangunan di Aspen, Colorado di AS.

Resort tujuan

Sebuah resort tujuan merupakan resort yang berisi, di dalam dan luar, kemampuan atraksi tamu yang memungkinkan-dikatakan bahwa sebuah resort tujuan tidak harus dekat dengan sebuah tempat (kota, situs bersejarah, taman tema, atau lainnya) untuk menarik publik. Karakteristik lain dari sebuah resort tujuan adalah menawarkan makanan, minuman, penginapan, olahraga, hiburan, dan perbelanjaan di dalam bangunan sehingga tamu tidak perlu meninggalkan bangunan selama menetap di sana. Fasilitas tersebut memiliki kualitas yang lebih tinggi bila seseorang menetap di hotel atau makan di restoran kota. Contohnya Atlantis di Bahama, Costa do Sauípe di Brazil Timurlaut, Laguna Phuket di Thailand dan Sun City dekat Johannesburg di Afrika Selatan.

Resort lengkap

 

Resort “Paradise” di Catskills

Resort lengkap adalah sebuah resort yang, disamping menyediakan ameniti dari suatu resort, memberi harga terjangkau yang meliputi kebanyakan atau semua item.[1] Pada tingkat rendah, banyak resort lengkap meliputi penginapan, makanan dan minuman tak terbatas, aktivitas olahraga, dan hiburan dengan harga terjangkau. Beberapa tahun belakangan, jumlah resort yang menawarkan ameniti “lengkap” telah berkurang banyak; tahun 1961, lebih dari setengah resort di dunia seperti itu dan tahun 2007, jumlahnya kurang dari sepuluh persen.[2]

Resort lengkap

Resort lengkap adalah sebuah resort yang, disamping menyediakan ameniti dari suatu resort, memberi harga terjangkau yang meliputi kebanyakan atau semua item.[3] Pada tingkat rendah, banyak resort lengkap meliputi penginapan, makanan dan minuman tak terbatas, aktivitas olahraga, dan hiburan dengan harga terjangkau. Beberapa tahun belakangan, jumlah resort yang menawarkan ameniti “lengkap” telah berkurang banyak; tahun 1961, lebih dari setengah resort di dunia seperti itu dan tahun 2007, jumlahnya kurang dari sepuluh persen.[4]

Resort bersejarah

Sebuah resort terkenal dari zaman kuno adalah Baiae, Italia, terkenal 2.000 tahun yang lalu. Capri, sebuah pulau dekat Naples, Italia, telah menarik pengunjung sejak masa Romawi.

Resort bersejarah terkenal lainnya adalah Monte Ne, Arkansas, yang aktif di awal abad ke-20. Di puncaknya lebih dari 10.000 orang per tahun menginap di hotel-hotelnya. Resort ini ditutup tahun 1930-an dan banjir pada 1960-an dan yang yang tersisa hanya reruntuhan.

Resort mewah

Resort mewah disebut pula sebagai sebuah resort yang eksklusif bertarifkan sangat mahal dengan fasilitas dan perlayanan liburan berbintang lima yang lengkap, Resort mewah sering dapat mendatangkan banyak pengunjung melalui kegiatan wisata seperti golf, olahraga air, fasilitas spa dan kecantikan, ski, ekologi alam atau ketenangan bila mengingat luasnya fasilitas yang ditawarkan maka sebuah resort mewah ini dapat pula dianggap atau disebut sebagai resort tujuan. [5]

MICE

MICE, singkatan bahasa Inggris dari “Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition” (Indonesia: Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran), dalam industri pariwisata atau pameran, adalah suatu jenis kegiatan pariwisata di mana suatu kelompok besar, biasanya direncanakan dengan matang, berangkat bersama untuk suatu tujuan tertentu. Akhir-akhir ini telah suatu kecenderungan pada para pelaku pasar pariwisata untuk mengganti istilah ini menjadi ” The Meetings Industry“. Dunia MICE adalah dunia yang belum terjamah dengan baik di Indonesia. Padahal dunia MICE merupakan salah satu andalan pariwisata di beberapa negara maju. Dunia MICE merupakan salah satu dunia bisnis yang menjanjikan. Namun baru sedikit sekali pihak Indonesia yang mau bermain di dunia MICE. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang MICE di Indonesia. Namun di Indonesia sudah mulai ada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan tentang MICE. Di antaranya adalah Universitas Indonesia. Berada di bawah departemen Antropologi FISIP UI, ada jurusan D3 Pariwisata (sekarang Vokasi Pariwisata dibawah Fakultas Vokasi Universitas Indonesia), yang memiliki tiga pilihan konsentrasi antara lain perhotelan, usaha jasa perjalanan wisata budaya/travel, dan MICE. Untuk konsentrasi MICE, diketuai oleh Ibu Aris Miyati Nasution. Beliau adalah pakar MICE Indonesia, dan dapat disebut sebagai salah satu sesepuh dunia MICE Indonesia. Selama satu tahun konsentrasi mahasiswa akan diberikan berbagai teori tentang dunia MICE yang sangat besar potensinya. Dunia MICE di Indonesia masih sangat besar potensinya untuk digali sedalam mungkin. Banyak negara yang sudah menjadikan dunia MICE sebagai salah satu potensi wisatanya.

Seperti Jepang dengan “Tokyo Motor Show”, Jerman dengan “Frankfurt Motor Show”, dan lain sebagainya. Bahkan berbagai biro perjalanan wisata telah membuat paket wisata mengunjungi berbagai event MICE di berbagai belahan dunia. Ini adalah potensi bisnis yang besar. Dunia MICE memiliki multiplier effect yang sangat besar. Sangat banyak lapangan pekerjaan yang tercipta dari adanya event MICE di suatu negara. Puluhan roda industri di dunia akan berputar dengan baik karena ada event MICE. Pihak pihak yang akan mendapat keuntungan dari event MICE antara lain:

  • Professional Exhibition Organizer (PEO),
  • Professional Conference Organizer (PCO),
  • Stan Kontraktor,
  • Freight Forwarder,
  • Supplier,
  • Florist,
  • Event Organizer,
  • Hall Owner,
Definisi ‘ekoturisme’
ECOTOURISM
Wisata yg dilaksanakan di hutan atau di mana saja dng memanfaatkan lingkungan alam sbg objeknya; bagian dari alam semesta yg dapat dimanfaatkan oleh para turis; wisata alam

Desa wisata

Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ekowisata

Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan.[1]

Ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan,[2] yaitu:

  1. Bahasa (language).[2]
  2. Masyarakat (traditions).[2]
  3. Kerajinan tangan (handicraft).[2]
  4. Makanan dan kebiasaan makan (foods and eating habits).[2]
  5. Musik dan kesenian (art and music).[2]
  6. Sejarah suatu tempat (history of the region)[2]
  7. Cara Kerja dan Teknolgi (work and technology).[2]
  8. Agama (religion) yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan.[2]
  9. Bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing daerah tujuan wisata (architectural characteristic in the area).[2]
  10. Tata cara berpakaian penduduk setempat (dress and clothes).[2]
  11. Sistem pendidikan (educational system).[2]
  12. Aktivitas pada waktu senggang (leisure activities).[2]

Objek-objek tersebut tidak jarang dikemas khusus bagi penyajian untuk turis, dengan maksud agar menjadi lebih menarik. Dalam hal inilah seringkali terdapat kesenjangan selera antara kalangan seni dan kalangan industri pariwisata. Kompromi-kompromi sering harus diambil. Kalangan seni mengatakan bahwa pengemasan khusus objek-objek tersebut untuk turis akan menghilangkan keaslian dari suatu budaya, sedangkan kalangan pariwisata mengatakan bahwa hal tersebut tidaklah salah asalkan tidak menghilangkan substansi atau inti dari suatu karya seni.

ISTILAH DAN DEFINISI BERKAITAN DENGAN PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

BERASASKAN KONSERVASI HAYATI

1    Ruang lingkup
Standar ini memuat istilah dan definisi yang berkaitan dengan pengusahaan pariwisata alam berasaskan konservasi hayati (PPABKH)
2    Acuan normatif
2.1    Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
2.2    Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.
2.3    Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
2.4    Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2.5    Undang-Undang Nomor 22 Tahun1999 tentang Pemerintahan Daerah.
2.6    Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
2.7    Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam.
2.8    Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
2.9    Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
2.10    Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
2.11    Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
2.12    Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom.
2.13    Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 167/Kpts-II/1994 tanggal 25 April 1994 tentang Sarana dan Prasarana Pengusahaan Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam.
2.14    Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 446/Kpts-II/1996 tanggal 23 Agustus 1996  tentang Tata Cara Permohonan, Pemberian, dan Pencabutan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam.
2.15    Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 447/Kpts-II/1996 tanggal 23 Agustus 1996 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pengusahaan Pariwisata Alam.
3    Istilah dan definisi
3.1    Analisis dampak lingkungan hidup / ANDAL
telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
3.2    Analisis mengenai dampak lingkungan hidup / AMDAL
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan
3.3    Asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
tercapainya keserasian dan keseimbangan antara pelestarian kemampuan dengan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
3.4    Asas perusahaan
tercapainya kelangsungan usaha  dengan diperolehnya keuntungan yang memadai
3.5    Bentang alam
kenampakan alam secara visual atau panorama alam
3.6    Blok pemanfaatan
bagian dari kawasan taman wisata alam, dan taman hutan raya, yang dijadikan tempat pariwisata alam dan kunjungan wisata
3.7    Daerah penyangga
wilayah yang berada di luar kawasan pelestarian alam, baik sebagai kawasan hutan lain, tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga kawasan pelestarian alam
3.8    Ekosistem sumber daya alam hayati
sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non-hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi
3.9    Hak pengusahaan di perairan
hak yang diberikan oleh pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan, baik yang bersifat ekstratif maupun non-ekstratif, bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut
3.10    Hasil hutan
benda-benda hayati ; non-hayati dan turunannya, serta jasa yang berasal dari hutan
3.11    Hasil usaha
pendapatan perusahaan yang bersangkutan dari hasil usaha pariwisata alam
3.12    Hutan
suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan
3.13    Izin pengusahaan pariwisata alam
izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan usaha pariwisata alam di sebagian zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, atau taman wisata alam
3.14    Kawasan pelestarian alam
kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
3.15    Kehutanan
sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu
3.16    Kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam
potensi kawasan pelestarian alam berupa ekosistem, keadan iklim, fenomena alam, kekhasan tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan pelestarian alam tersebut
3.17    Konservasi hayati
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
3.18    Konservasi sumber daya alam hayati
pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya
3.19    Kriteria
ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu
3.20    Pariwisata alam
segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata alam, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut
3.21    Pemanfaatan tradisional
pemanfaatan sumber daya alam hayati yang ada dalam kawasan pelestarian alam oleh masyarakat setempat yang secara tradisional kehidupan sehari-harinya tergantung pada kawasan pelestarian alam
3.22    Pembinaan
kegiatan untuk memberikan pedoman bagi pemegang izin pengusahaan pariwisata alam yang menyangkut pengaturan, bimbingan, pengusulan dan teguran agar supaya dapat melaksanakan usahanya sesuai tujuan yang ditetapkan
3.23    Pembinaan habitat
kegiatan berupa pemeliharaan/perbaikan lingkungan tempat hidup satwa dan/atau tumbuhan dengan tujuan agar satwa dan/atau tumbuhan tersebut dapat terus hidup dan berkembang secara dinamis dan seimbang
3.24    Pembinaan populasi
kegiatan menambah atau mengurangi populasi satwa dan/atau tumbuhan tertentu dengan tujuan agar satwa dan/atau tumbuhan tersebut tetap berada pada kondisi yang dinamis dan seimbang
3.25    Pengawasan
seluruh proses kegiatan penilaian terhadap semua kegiatan pengusahaan pariwisata alam dengan tujuan agar dapat berjalan sesuai dengan rencana dan peraturan yang berlaku
3.26    Pengelolaan kawasan pelestarian alam
upaya terpadu dalam penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, pengembangan dan perlindungan serta pemanfaatannya
3.27    Pengolahan bentang alam
perlakuan dalam rangka membangun kawasan, baik perlakuan yang mengubah bentuk muka tanah/ topografi, maupun perlakuan dalam rangka membangun di atas permukaan tanah (seperti: menanam, membangun fasilitas dan sebagainya)
3.28    Pengusahaan pariwisata alam
suatu kegiatan untuk menyelenggarakan usaha sarana pariwisata di sebagian zona  pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, atau taman wisata alam, berdasarkan rencana pengelolaan
3.29    Pengusahaan pariwisata alam berasaskan konservasi hayati
kegiatan penyelengaraan usaha pariwisata di zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, atau taman wisata alam, berdasarkan rencana pengelolaan dengan memperolah keuntungan yang memadai dan tercapainya keserasian dan keseimbangan antara perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
3.30    Perairan
perairan Indonesia yag meliputi perairan pedalaman (sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya), laut wilayah Indonesia, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia
3.31    Perlindungan sistem penyangga kehidupan
usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air, tebing, tepian sungai, danau, dan jurang, pemeliharaan fungsi hidroorologi hutan, perlindungan pantai, pengelolaan daerah aliran sungai, perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam, dan lain-lain
3.32    Prasarana pengusahaan pariwisata alam
segala sesuatu yang keberadaannya diperuntukkan sebagai penunjang kegiatan pariwisata alam, sehingga pelayanan dan kemudahan dapat tercapai
3.33    Rencana karya pengusahaan pariwisata alam
suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan pengusahaan pariwisata alam di kawasan yang bersangkutan, yang  dibuat oleh pengusaha pariwisata alam yang didasarkan pada rencana pengelolaan
3.34    Rencana pengelolaan
suatu rencana bersifat umum dalam rangka pengelolaan taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam yang disusun oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang kehutanan
3.35    Rencana pengelolaan lingkungan / RKL
upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan
3.36    Rencana pemantauan lingkungan / RPL
upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan
3.37    Rancangan standar nasional Indonesia / RSNI naskah standar sebelum menjadi SNI
3.38    Sarana pengusahaan pariwisata alam bangunan yang diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata alam
3.39    Standar nasional Indonesia / SNI
standar yang telah diangkat/disetujui Dewan Standardisasi Nasional menjadi Standar Nasional Indonesia sampai dengan tanggal 12 November 1997, dan/atau standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional mulai tanggal 13 November 1997, dan berlaku secara nasional di Indonesia
3.40    Standar
spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan, disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan, keselamatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berdasarkan pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang   untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya
3.41    Sumber daya alam hayati
unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem
3.42    Taman hutan raya
kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi
3.43    Taman nasional
kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi
3.44    Taman wisata alam
kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam
3.45    Unsur hayati
makhluk hidup yang terdiri dari manusia, tumbuhan, satwa, dan jasad renik
3.46    Unsur non-hayati
terdiri dari sinar matahari, air, udara, dan tanah
3.47    Upaya pengelolaan lingkungan / UPL
uraian secara rinci mengenai upaya pengelolaan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh pemrakarsa
3.48    Upaya pemantauan lingkungan / UPL
uraian secara rinci mengenai upaya pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh pemrakarsa
3.49    Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehigga pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara terus-menerus pada masa mendatang
3.50    Wisata alam
kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela bersifat sementara untuk menikmati gejala keunikan dan keindahan alam, di taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam
3.51    Zona inti kawasan taman nasional
bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktifitas manusia, kecuali untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan
3.52    Zona pemanfaatan taman nasional
bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan tempat pariwisata alam dan kunjungan wisata
3.53    Zona lain taman nasional
zona di luar zona inti dan zona pemanfaatan taman nasional karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional, zona rehabilitasi, dan sebagainya
3.54    Zona rimba taman nasional
bagian kawasan taman nasional di daratan yang berfungsi sebagai penyangga zona inti
3.55    Zona pemanfaatan tradisional taman nasional
bagian kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai pemanfaatan sumber daya alam hayati oleh masyarakat setempat yang secara tradisional kehidupan sehari-harinya tergantung pada kawasan taman nasional
CATATAN    Dalam proses pengembangan pengusahaan pariwisata alam, dimungkinkan adanya pengembangan lokasi kawasan pelestarian alam; pengembangan acuan normatif;  pengembangan istilah dan definisi yang akan disajikan dalam suplemen dari dokumen ini.

Transportasi
adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.

Backpacking (perjalanan)

 

Bentuk dari backpack

Backpacking (perjalanan) adalah seseorang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangan berusia muda, tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur.

Backpacking
Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun ke luar negeri. Backpack merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya tas yang digendong di belakang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s